Arti Kehadiran Anak dalam sebuah Pernikahan
Pernikahan kami sudah memasuki usia 1 tahun 6 bulan, pertanyaan yang selalu muncul adalah kapan punya anak? Pertanyaan yang cenderung dilontarkan hanya sekedar basa basi namun tak jarang cenderung mencemooh.
Karena tak dipungkiri, kebanyakan pasangan muda yang menikah menginginkan segera memiliki momongan.
Namun, bayak yang tidak menyadari bahwa kehadiran seorang anak adalah bonus dari Allah akan sebuah pernikahan tersebut. Bukan "perlombaan" siapa yang bisa Gol duluan. Ini bukan perlombaan.
Setiap pasangan punya tujuan masing-masing dalam pernikahaannya. Kadang yang membuat runyam bukan dua orang yang menjalani pernikahan tsb. Tapi malah datang dari orang-orang diluar itu, entah hanya orang iseng, teman, mertua, orang tua, saudara.
Apalagi aku dan suamiku menyerahkan semua masalah kehadiran anak pada Allah. Kami tidak menunda dan tidak merencanakan program hamil khusus setelah aku mengalami blighted ovum kemarin, bisa lihat ceritaku di postingan sebelumnya.
Maklum saja walaupun sudah lebih dari setahun menikah, kita hampir belum pernah merasakan pernikahan yang memang hidup setiap hari yang bangun dan tidurnya barengan.
Masih terpaut jarak Jakarta-Jogja, kami masih merasa belum merasakan pernikahan yang seutuhnya dalam arti kebersamaan.
Harapan kami malah ketika aku lulus kuliah bisa pacaran dulu, menikmati waktu berdua,kemana-mana berdua, liburan berdua. Malahan suamiku menginginkan aku membangun karir atau usaha terlebih dahulu. Bersyukurnya aku memiliki suami yang membebaskan istri untuk mengembangkan diri.
Arti anak dalam pernikahan kami adalah sebuah bonus, sebuah hadiah dari Allah yang kita tidak tau kapan akan diberi. Anak adalah anugrah, amanah, tanggung jawab. Mungkin saat ini Allah memberi kami bonus dalam bentuk lain, bonus masih bisa mensyukuri nikmat Allah.

Comments
Post a Comment